Waspada Roseola Infantum pada Balita

  • 2016-12-06 15:46:11

Ruam kemerahan dan demam tinggi tidak selalu menjadi gejala campak ataupun rubella. Kondisi ini dapat menjadi gejala Roseola Infantum.

Roseola Infantum merupakan infeksi virus yang umumnya menyerang bayi atau balita usia 6 bulan hingga 1,5 tahun dengan gejala utama berupa demam dan muncul ruam merah muda pada permukaan kulit. Sedangkan virus yang menginfeksi adalah virus herpes yang merupakan virus menular.

Gejala Roseola muncul setelah virus berinkubasi di dalam tubuh selama 1-2 minggu. Pada tahap awal, bayi atau balita yang mengalami Roseola biasanya mengalami demam tinggi secara tiba-tiba yang akan turun setelah 3-4 hari. Setelah itu muncul ruam merah muda pada permukaan kulit punggung, perut, atau dada dan kemudian menyebar ke lengan dan kaki. Pada beberapa kasus yang sangat jarang, anak yang mengalami Roseola akan turut mengalami kejang demam. Gejala-gejala lainnya seperti pilek, sakit tenggorokan, batuk, diare ringan, kehilangan nafsu makan, pembengkakan kelenjar pada leher, serta pembengkakan kelopak mata.

 

Penyebab Roseola Infantum

Roseola disebabkan oleh virus HHV-6 (Human Herpesvirus 6) atau virus herpes tipe 6 yang penyebarannya sama dengan penularan flu pada umumnya, yaitu melalui batuk atau bersin dari anak lain yang terlebih dahulu terinfeksi dan secara tidak langsung ketika anak Anda memegang benda atau berbagi penggunaan sesuatu yang telah terkontaminasi virus HHV-6 misalnya pegangan pintu, mainan, piring, gelas, dan sendok.

 

Perawatan dan Pengobatan Roseola

Perawatan  yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan paracetamol untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi akibat demam. Berikan anak Anda air mineral sesering mungkin meskipun si Kecil tidak merasa haus. Jika memungkinkan, berikan minuman elektrolit untuk mencegah dehidrasi sebagai akibat dari suhu tubuh yang meningkat karena demam. Pastikan anak beristirahat cukup dan jagalah suhu kamar anak Anda agar tetap sejuk.

 

 

Pencegahan Roseola

Anak-anak yang sudah pernah terkena Roseola umumnya tidak akan terkena kondisi ini lagi untuk kedua kalinya karena antibodi yang sudah mampu melawan virus HHV-6 sudah terbentuk. Karena itu kasus Roseola pada orang dewasa merupakan hal yang sangat langka, terkecuali penderita belum pernah terkena kondisi ini saat kecil atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah karena suatu kondisi (misalnya akibat virus HIV atau akibat efek samping pengobatan kemoterapi).

Hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah Roseola karena itu langkah terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah penularannya adalah menjauhkan anak Anda dari penderita agar tidak terpapar. Begitu pula sebaliknya, jika anak Anda sedang sakit Roseola, liburkan dahulu seluruh aktivitas yang biasa dia lakukan di luar (misalnya bermain atau belajar) hingga gejalanya sembuh total.

Jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan apabila terdapat penderita Roseola di rumah agar kita tidak menjadi media penularan secara tidak langsung di luar.

 

Sumber:

ALO DOKTER Blog. 2016. “Roseola”. Diakses dari: http://www.alodokter.com/roseola

ALO DOKTER Blog. 2016. “Lindungi Balita Dari Penularan Roseola Infantum”. Diakses dari: http://www.alodokter.com/lindungi-balita-dari-penularan-roseola-infantum

Referensisehat.com. 2015. “Roseola Infantum”. Diakses dari: http://www.referensisehat.com/2015/05/penyebab-gejala-mengatasi-mengobatiroseola-infantum.pdf.html